Senin, 25 Mei 2020

PENTINGNYA CATATAN KEJADIAN (INCIDENT REPORT)

Oleh: Fourzia Yunisa


Suatu saat tejadi kejadian dimana grup orang tua tiba-tiba ramai, bukan karena anggota grup saling berdiskusi bertukar ide tapi salah satu bapak wali murid tiba-tiba marah-marah di grup mencari wali murid yang lain. Si Bapak memaki dan mengumpat karena anaknya sudah menjadi korban kekerasan fisik salah satu teman sekelasnya hari ini disekolah dan mengupload foto wajah bekas cakaran. Akhirnya kode etik yang sudah menjadi komitmen untuk dilaksanakan di grup orang tua tidak berjalan. Bapak ini menyalahkan teman sekelas yang sudah mencakar muka anaknya tanpa terlebih dahulu mengkonfirmasi informasi kepada pihak sekolah. Dua orang bapak saling adu argument masing-masing. Akibatnya,  masalah anak menjadi masalah orang tua. Pihak sekolah tentu saja tidak luput dari bagian yang disalahkan. Insiden ini terjadi pada siswa SD kelas satu yang berawal dari masalah anak-anak dengan berujung kontak fisik. Pada hari itu juga sebenarnya masalah ini sudah selesai di level anak-anak. Bahkan, mereka belajar bagaimana saling menghargai satu dengan yang lainnya, belajar bagaimana mengatasi masalah, dan bagaimana saling memberi dan meminta maaf. Namun, ada satu prosedur yang luput dari guru kelasnya waktu itu yaitu guru lupa memasrahkan masalah kedua anak tersebut kepada supervisor atau guru piket sore. Sehingga, ketika ayahnya menjemput tidak ada klarifikasi masalah atau penjelasan insiden yang terjadi hari itu sampai siswa tiba di rumah.

Permasalahan yang terjadi untuk siswa SD kelas bawah selain kemandirian juga pada seputar belum terbentuknya keterampilan interpersonal maupun intrapersonal, konflik antar teman, kecemasan, dan tidak percayadiri. Ada siswa yang setiap harinya kemana-mana membawa tas dan selalu mengikuti gurunya kemana dia pergi. Ia merasa takut kalau ada teman yang mengutak-atik atau mengambil tasnya. Ada siswa yang tidak mau masuk ke kelas, selalu mojok di pojokan kelas tidak mau bergabung dengan teman yang lain. Beberapa siswa ada yang lebih banyak mencari perhatian dengan selalu mengacaukan pekerjaan teman-temennya, main kontak fisik dalam berkomunikasi dan melakukan aktifitas yang diluar dugaan. Ketika permasalahan ini tidak cukup diselesaikan di kelas dengan wali kelas maka sekolah perlu melibatkan psikolog dalam membantu mendiagnose lebih lanjut terkait kebutuhan siswa. Psikolog sekolah akan mengobservasi siswa di kelas dan melakukan wawancara. Tentu saja kegiatan observasi ini memerlukan waktu tidak sebentar karena observer akan melihat secara detil apa yang menjadi triger siswa berprilaku tidak sesuia. Jika diperlukan, sekolah akan melakukan assessment lebih lanjut. Lain kondisinya jika pihak sekolah tidak mempunyai banyak waktu untuk menggali data lebih banyak dikarenakan kondisi lingkungan yang tidak memungkinkan semisal orang tua siswa lain yang merasa anaknya terancam oleh perilaku siswa yang bersangkutan sehingga para orang tua menuntut segera masalah di kelas dengan siswa tersebut selesai sesegera mungkin.
rcreducation.com

Di lain waktu, ada salah satu siswa mengalami kecelakaan di kolam renang. Waktu itu siswa terpeleset dan jatuh dengan benturan kepala. Siswa merasa pusing dan beberapa jam setelahnya ketika di UKS siswa tersebut muntah-muntah. Pihak sekolah membawa siswa tersebut ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Beberapa kejadian diatas mungkin saja terjadi di sekolah lain sehingga sekolah perlu merujuk siswa mereka ke rumah sakit terdekat, biro konsultasi tumbuh kembang atau ke lembaga lain sesuai kebutuhan. Akan tetapi, rekanan sekolah seringkali kurang mendapat informasi dari kasus-kasus yang ditangani karena tidak adanya rekam jejak atau catatan sumber informasi yang lengkap dari sekolah. Pihak yang diajak kerjasama akan lebih terbantu jika guru atau pihak sekolah mempunyai catatan kejadian/kecelakaan dalam keseharian ( incident report).

“Apa fungsi incident report?”. Dengan adanya incident report, maka sekolah akan membantu memberikan informasi detil dan akurat terkait kejadian luar biasa yang dialami oleh anak sehingga akan sangat bermanfaat bagi pihak UKS maupun BK menentukan langkah yang tepat untuk penanganaan masalah tersebut. Bagi siswa yang memerlukan assessment terkait prilaku yang tidak biasa maka data dari incident report ini bisa menjadi data awal untuk mendiagnose kebutuhan siswa lebih cepat. Selain itu, catatn ini bisa dipakai untuk menjadi lampiran laporan kepada orang tua apabila anaknya terlibat insiden atau kecelakaan di hari itu dan memberikan penjelasan terkait apa yang sudah dilakukan sekolah untuk menangani masalah tersebut.

“Bagaimana bentuk format dan penulisan incident report?” Ada banyak sumber dan contoh penulisan incident report yang memuat informasi real time keadaan siswa ketika terjadi kecelakaan atau insiden lain. Diantaranya, informasi tentang hari dan tanggal kejadian, waktu kejadian, kronologgi kejadian, bagian yang cedera, saksi-saksi dan siapa yang menangani pertama, tindakan apa yang dilakukan, kemudian tindaklanjut. Contoh format incident report bisa dilihat di lampiran.
“Siapa saja yang wajib membawa catatn incident report?”. Catatan incident report wajib tersedia di dalam kelas yang akan diisi pleh wali kelas jika terjadi kejadian di dalam kelas atau orang dewasa yang menyaksikan, guru olah raga ketika pelajaran olah raga, guru ekstra kurikuler, supervisor dan pendamping kegiatan outing. Apabila terjadi kejadian luar biasa semisal kecelakaan ataupun insiden antar siswa maka laporan penanganan kejadian tersebut harus sampai ke orang tua kurang dari 24 jam dari kejadian agar tidak terjadi missed communication. Hasil catatan incident report ini secara tidak langsung juga akan memperlihatkan delta perubahan sikap seoarang siswa dari waktu ke waktu dan dapat juga menjadi jurnal laporan kepada orang tua yang akan dilakukan setiap semester.

Beberapa sumber:

   





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  MEMBANGUN KARAKTER DI SEKOLAH: Praktik Baik Strategi Penguatan Karakter di SMPIT LHI Bantul Yogyakarta Artikel Proyek Akhir DKT Daring P...