Oleh: Fourzia Yunisa
Suatu saat tejadi kejadian dimana
grup orang tua tiba-tiba ramai, bukan karena anggota grup saling berdiskusi
bertukar ide tapi salah satu bapak wali murid tiba-tiba marah-marah di grup
mencari wali murid yang lain. Si Bapak memaki dan mengumpat karena anaknya
sudah menjadi korban kekerasan fisik salah satu teman sekelasnya hari ini
disekolah dan mengupload foto wajah bekas cakaran. Akhirnya kode etik yang
sudah menjadi komitmen untuk dilaksanakan di grup orang tua tidak berjalan. Bapak
ini menyalahkan teman sekelas yang sudah mencakar muka anaknya tanpa terlebih dahulu
mengkonfirmasi informasi kepada pihak sekolah. Dua orang bapak saling adu argument
masing-masing. Akibatnya, masalah anak
menjadi masalah orang tua. Pihak sekolah tentu saja tidak luput dari bagian yang
disalahkan. Insiden ini terjadi pada siswa SD kelas satu yang berawal dari
masalah anak-anak dengan berujung kontak fisik. Pada hari itu juga sebenarnya
masalah ini sudah selesai di level anak-anak. Bahkan, mereka belajar bagaimana
saling menghargai satu dengan yang lainnya, belajar bagaimana mengatasi
masalah, dan bagaimana saling memberi dan meminta maaf. Namun, ada satu
prosedur yang luput dari guru kelasnya waktu itu yaitu guru lupa memasrahkan
masalah kedua anak tersebut kepada supervisor atau guru piket sore. Sehingga,
ketika ayahnya menjemput tidak ada klarifikasi masalah atau penjelasan insiden
yang terjadi hari itu sampai siswa tiba di rumah.
Permasalahan yang terjadi untuk siswa
SD kelas bawah selain kemandirian juga pada seputar belum terbentuknya
keterampilan interpersonal maupun intrapersonal, konflik antar teman,
kecemasan, dan tidak percayadiri. Ada siswa yang setiap harinya kemana-mana membawa
tas dan selalu mengikuti gurunya kemana dia pergi. Ia merasa takut kalau ada
teman yang mengutak-atik atau mengambil tasnya. Ada siswa yang tidak mau masuk
ke kelas, selalu mojok di pojokan kelas tidak mau bergabung dengan teman yang
lain. Beberapa siswa ada yang lebih banyak mencari perhatian dengan selalu
mengacaukan pekerjaan teman-temennya, main kontak fisik dalam berkomunikasi dan
melakukan aktifitas yang diluar dugaan. Ketika permasalahan ini tidak cukup
diselesaikan di kelas dengan wali kelas maka sekolah perlu melibatkan psikolog
dalam membantu mendiagnose lebih
lanjut terkait kebutuhan siswa. Psikolog sekolah akan mengobservasi siswa di
kelas dan melakukan wawancara. Tentu saja kegiatan observasi ini memerlukan
waktu tidak sebentar karena observer akan melihat secara detil apa yang menjadi
triger siswa berprilaku tidak sesuia. Jika diperlukan, sekolah akan melakukan
assessment lebih lanjut. Lain kondisinya jika pihak sekolah tidak mempunyai
banyak waktu untuk menggali data lebih banyak dikarenakan kondisi lingkungan yang
tidak memungkinkan semisal orang tua siswa lain yang merasa anaknya terancam
oleh perilaku siswa yang bersangkutan sehingga para orang tua menuntut segera
masalah di kelas dengan siswa tersebut selesai sesegera mungkin.
rcreducation.com
Di lain waktu, ada salah satu
siswa mengalami kecelakaan di kolam renang. Waktu itu siswa terpeleset dan jatuh
dengan benturan kepala. Siswa merasa pusing dan beberapa jam setelahnya ketika
di UKS siswa tersebut muntah-muntah. Pihak sekolah membawa siswa tersebut ke
rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Beberapa kejadian diatas mungkin
saja terjadi di sekolah lain sehingga sekolah perlu merujuk siswa mereka ke
rumah sakit terdekat, biro konsultasi tumbuh kembang atau ke lembaga lain
sesuai kebutuhan. Akan tetapi, rekanan sekolah seringkali kurang mendapat
informasi dari kasus-kasus yang ditangani karena tidak adanya rekam jejak atau
catatan sumber informasi yang lengkap dari sekolah. Pihak yang diajak kerjasama
akan lebih terbantu jika guru atau pihak sekolah mempunyai catatan kejadian/kecelakaan
dalam keseharian ( incident report).
“Apa fungsi incident report?”. Dengan
adanya incident report, maka sekolah akan membantu memberikan informasi detil
dan akurat terkait kejadian luar biasa yang dialami oleh anak sehingga akan
sangat bermanfaat bagi pihak UKS maupun BK menentukan langkah yang tepat untuk
penanganaan masalah tersebut. Bagi siswa yang memerlukan assessment terkait prilaku yang tidak biasa maka data dari incident
report ini bisa menjadi data awal untuk mendiagnose
kebutuhan siswa lebih cepat. Selain itu, catatn ini bisa dipakai untuk
menjadi lampiran laporan kepada orang tua apabila anaknya terlibat insiden atau
kecelakaan di hari itu dan memberikan penjelasan terkait apa yang sudah
dilakukan sekolah untuk menangani masalah tersebut.
“Bagaimana bentuk format dan
penulisan incident report?” Ada banyak
sumber dan contoh penulisan incident report yang memuat informasi real time keadaan siswa ketika terjadi
kecelakaan atau insiden lain. Diantaranya, informasi tentang hari dan tanggal
kejadian, waktu kejadian, kronologgi kejadian, bagian yang cedera, saksi-saksi
dan siapa yang menangani pertama, tindakan apa yang dilakukan, kemudian
tindaklanjut. Contoh format incident
report bisa dilihat di lampiran.
“Siapa saja yang wajib membawa
catatn incident report?”. Catatan incident report wajib tersedia di dalam
kelas yang akan diisi pleh wali kelas jika terjadi kejadian di dalam kelas atau
orang dewasa yang menyaksikan, guru olah raga ketika pelajaran olah raga, guru
ekstra kurikuler, supervisor dan pendamping kegiatan outing. Apabila terjadi
kejadian luar biasa semisal kecelakaan ataupun insiden antar siswa maka laporan
penanganan kejadian tersebut harus sampai ke orang tua kurang dari 24 jam dari
kejadian agar tidak terjadi missed
communication. Hasil catatan incident
report ini secara tidak langsung juga akan memperlihatkan delta perubahan
sikap seoarang siswa dari waktu ke waktu dan dapat juga menjadi jurnal laporan
kepada orang tua yang akan dilakukan setiap semester.
Beberapa sumber:
Beberapa sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar