Selasa, 21 April 2020

BELAJAR KETERAMPILAN SOSIAL DARI SEKOLAH DI SWEDIA


Oleh: Fourzia Yunisa

Beberapa waktu yang lalu tepatnya Juni 2013, saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki di benua Eropa tepatnya di sebuah sekolah di kota Gothenborg Swedia. Waktu itu di awal musim panas dengan suhu sekitar 18 ⁰C. Beberapa hari lagi sekolah akan segera libur musim panas. Pagi itu cuaca cerah dan aktivitas sekolah banyak dilakukan di luar ruangan. Sekolah mulai jam delapan dan berakhir jam satu siang. Setelah istirahat dan makan siang maka sekolah melakukan program yang namanya “Leisure Time”. Leisure time sendiri merupakan aktivitas yang dilakukan bersama guru yang sifatnya pilihan. Artinya, siswa boleh mengikuti aktivitas tersebut atau melakukan aktivitas lain di siang itu sebelum orang tua mereka menjemput .

Aktivitas leisure time hari itu permainan lapangan yang dimana siswa dibagi menjadi dua tim. Guru menentukan siapa di kelompok mana. Yang menarik perhatian kami waktu itu adalah ada anak yang meminta untuk bergabung di kelompok yang dia inginkan tapi guru tidak memperbolehkan. Dia harus patuh dengan pembagian kelompok yang sudah ditentukan oleh guru pengampu aktivitas tersebut. Setelah selesai satu babak maka guru akan mengatur ulang siswa dalam kelompok dan sekali lagi tidak ada tawar menawar dalam anggota kelompok. Guru menentukan anggota tim tanpa ada kompromi dengan siswa.

Tentu saja kami penasaran kenapa guru melakukan hal tersebut kepada para anggota tim. Maka dijelaskan lah kepada kami kenapa guru menentukan anggota tim dan ketat tidak boleh ada tawar menawar. Alasan yang disampaikan gurunya waktu itu adalah karena suatu saat nanti ketika mereka dewasa mereka akan bekerja sama dengan banyak orang tidak hanya orang-orang yang mereka suka atau mereka pilih. Mereka harus bisa bekerjasama dengan siapapun. Begitu juga ketika selesai satu babak maka anggota kelompok mereka akan ditata ulang. Tujuan lain dari penataan ulang adalah agar mereka tidak fanatik dengan kemenangan kelompok yang mungkin akan menimbulkan konflik atau timbulnya kecenderungan pada kelompok tersebut.

Di hari berikutnya, sekolah mengadakan acara ulang tahun. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun. Semacam pesta kebun dan ada kue ulang tahun. Nah apakah mereka merayakan ulang tahun di sekolah? Mereka tidak diperbolehkan merayakan ulang tahun di sekolah tetapi sekolah memfasilitasi ulang tahun bersama di satu waktu. Ada snack, kue ulang tahun, hiburan dan permainan. Beberapa diantaranya ada siswa yang agak lebih besar. Ternyata, mereka adalah alumni yang menjadi volunteer di sekolah pada acara tersebut. Dari satu permainan, mereka belajar dan mengasah keterampilan sosial. 


Jumat, 10 April 2020

"Safety First" dengan Supervisor Sahabat Siswa


photo by bts

Oleh: Fourzia Yunisa

Mengatur sebuah sekolah adalah sebuah amanah dan sekaligus tantangan yang luar biasa. Kita dihadapakan dalam sebuah organisasi dimana yang diatur bukan benda mati tapi setiap individu yang mempunyai potensi unik yang ada dalam diri mereka. Bisa dibayangkan jika individu tersebut adalah anak-anak usia sekolah dasar sekitar 7-12 tahun dengan kehebohan mereka dalam bereksplorasi memenuhi kebutuhan rasa ingin tahu, meluapkan energy dalam bentuk  olah fisik dan motorik kasarnya, juga emosi yang masih sangat labil dan baru belajar mengenal diri.  Sekian ratus siswa ada dalam satu lingkungan yang bernama sekolah. Hal yang paling penting dan menyita perhatian bagi management sekolah  kira-kira apa ya??

Betul sekali…. Safety dan rasa aman menjadi hal yang paling menyita perhatian. Apabila kita kurang tanggap dalam memperhatikan ini, maka incident  maupun accident akan sering kita jumpai. Tak jarang ketika jam istirahat ada anak yang harus dibawa ke UKS atau bahkan ke rumah sakit karena cedera.
Beberapa hal yan perlu diperhatiakan untuk masalah safety diantaranya adalah:
1.     Mengedukasi siswa terkait safety, bagaimana siswa secara bertahap diberikan pemahaman dan moral reasoning terkait keamanan di lingkungan sekolah semisal bagaimana tatacara ketika naik dan turun tangga, kapan dan dimana siswa bermain bola dan  kegiatan lainnya.
2.     Sarana dan prasarana sekolah yang ramah anak, bagaiman sarana prasarana sekolah memperhatikan keamanan lingkungan seperti tidak ada sudut di tiang-tiang sekolah, pemberian cat yang mencolok pada area –area yang perlu perhatian seperti tempat-tempat yang rawan anak-anak jatuh seperti tangga, tempat parker, depan kamar mandi . Anak-anak kelas bawah akan lebih perhatiannya terhadap warna daripada tulisan “hati-hati…/awas… “. Selain itu di setiap arena terdapat aturan yang ditempel.
3.     Sistem supervisi siswa, bagaimana sekolah punya regulasi  terkait safety dan membangun kesadaran bersama orang dewasa di lingkungan sekolah terkait hal tersebut.

Pada kesempatan ini saya akan lebih banyak membahas point ke tiga yaitu system supervisi siswa. Tujuan dari adanya supervisi siswa adalah untuk memastikan siswa melakukan segala sesuatu dengan aman selama jam-jam tertentu. Jam-jam crucial yang memungkinkan terjadinya incident, bullying, maupun, accident adalah waktu-waktu dimana siswa melakukan aktivitas yang menyebar tanpa pengawasan orang dewasa. Tiga crucial time tersebut adalah:
1.     Ketika jam pagi sebelum masuk, dimana siswa sebagian sudah hadir dan melakukan aktivitas di luar ruangan maupun di dalam kelas.
2.     Ketika jam istirahat pagi maupun siang
3.     Ketika jam after school sedangkan  siswa belum dijemput


Hal-hal yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh supervisor siswa adalah sebagai berikut:
1.     Hanya staf terlatih yang boleh diberi tugas dan tanggungjawab terhadap supervisi siswa. Siswa tidak boleh diminta untuk mengawasi siswa lain dengan alasan tidak adanya seorang guru.
2.     Waktu pengawasan tidak boleh menganggu kewajiban utama yang harusnya dilaksanakan. Sebagai contoh, guru asisten yang bertugas mengawasi anak berkubutuhan khusus tidak boleh diberi tugas pengawasan jika hal tersebut akan mengganggu tugas utama mereka dalam menangani anak berkebutuhan khusus.
3.   Dalam satu area supervisi dan satu jarak pandang minimal ada satu supervisor untuk mengawasi. Rasio antara supervisor dan siswa adalah 1:50-100 siswa.
4. Supervisor sekolah dasar harus melakukan pengawasan yang berkesinambungan dan pengamatan secara langsung terhadap siswa yang mereka awasi
5.  Sementara siswa sedang makan atau istiraha, setiap ruang tertutup harus diawasi secara terpisah. Siswa tidak diperkenankan berada di dalm kelas ketika jam istirahat tanpa pengawasan orang dewasa atau guru di kelas tersebut
6.    Supervisor wajib membawa dan memakai perlengkapan supervisor yang sudah disediakan yaitu penanda jika guru tersebut sedang bertugas.
7.    Supervisor menangani langsung insiden yang terjadi baik mental maupun fisik. Supervisor berhak memberikan “time out” kepada siswa jika siswa tidak mau diajak kerjasama dan memberikan catatan apresiasi,  peringatan dan pelanggaran berat. Supervisor juga mensterilkan siswa dari orang asing dan benda-benda yang berbahaya.
8.   Supervisor merekap kedalam buku “incident report” ketika supervisi berakhir dan meneruskan catatan kepada wali kelas yang bersangkutan dan kepada kepala sekolah  berupa laporan apabila waktu itu terjadi insiden.

Beberapa referensi terkait supervisi siswa bisa dilihat di laman berikut:









Sabtu, 04 April 2020

Seputar Kardus dan "Attention Span"

Oleh Fourzia Yunisa 

Study From Home (SFH), Saatnya kita mendampingi belajar anak sendiri...he...he..

Masa pandemi covid 19 ini membuat saya lebih banyak mengamati dan "mencocokkan" beberapa teori yang pernah saya pelajari dari membaca atau mengikuti workshop. Terakhir workshop yang saya ikuti adalah workshop nya mbak Ellen Kristi mengenai Metode Charlotte Mason tentang Habit of attention. Salah satu pembahasan dalam workshop tersebut mengenai Attention Span atau lama waktu seseorang bisa fokus pada sebuah aktivitas.

Si bocah saya usia 5 tahun bisa berjam- jam main dengan kardus. Normalnya, attention span atau fokus usia dia untuk suatu hal atau pekerjaan sekitar 14 menit atau 15 menit. Untuk menghitung attention span  bisa dirumuskan 2× usia anak. Attention span bisa lebih panjang apabila si bocah menikmati apa yang dia kerjakan dan tentu saja aktivitas pekerjaan itu ditentukan oleh mereka sendiri dan tdk perlu dengan beli mainan mainan mahal. Seringnya beli mainan mobil atau truk tapi sehari saja dah lewat tdk menarik lagi. Apa yg ada di rumah bisa digunakan untuk mainan, malah akan menambah kreativitas dan imajinasi mereka. Ga harus juga emak bikin ini bikin itu untuk mainan anak...entar yang tambah kreatif emaknya wkwkwwk (sekaligus pembelaan diri krn ga bisa nak nik nak nik). Emak tinggal memastikan safety nya saja dan kapan mereka harus melakukan pekerjaan2 utama seperti makan, mandi dan lain-lain. 

Si bocah mendapat Covid-19 HW kit dari sekolah sudah ludes dalam sehari. Daan...dia kembali ke kardusnya. Bapak si bocah sengaja bawakan kardus bekas dr tempat kerja yang cukup gede sdh beberapa waktu lalu dan ga pernah bosen eksplorasi kardus. Kadang kardus sengaja di lempar dan meluncur dr tangga ke lantai bawah. Kadang jadi "kandang" atau tempat persembunyian klo Si Bapak datang. Hal baru dari berbagi pengalaman ketika workshop "Habit of Attention" kemarin salah satunya adalah kadang ketika anak sedang menikmati dan eksplorasi serta belajar terbiasa lebih fokus terhadap satu hal, justru orang tua yg melatih memperpendek AS atau fokus mereka dengan meminta anak melakukan aktivitas yg lain yang diangga orang tua "lebih penting" dan "lebih edukatif". Naaah....beware ya Maak...



Thankyou again mbak @ellenkristi atas sharingnya.

  MEMBANGUN KARAKTER DI SEKOLAH: Praktik Baik Strategi Penguatan Karakter di SMPIT LHI Bantul Yogyakarta Artikel Proyek Akhir DKT Daring P...