MEMBANGUN KARAKTER DI SEKOLAH:
Praktik Baik Strategi Penguatan Karakter di SMPIT LHI Bantul Yogyakarta
Artikel
Proyek Akhir DKT Daring Penguatan Karakter Episode 1
Oleh: Fourzia Yunisa Dewi, S.Pd.
fourziayunisa@gmail.com
Tidak
bisa kita hindari bahwa kita sekarang hidup di zaman yang serba cepat dengan
kecanggihan teknologi dan informasi yang luar biasa berkembang yang melahirkan
generasi baru yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Kita diberi kemudahan
dalam segala aktivitas namun di sisi lain mendapatkan imbas negatif yang lebih
besar apabila kita tidak mempersiapkan generasi penerus dengan keterampilan yang
cukup dan karakter yang kuat. Hal ini sudah mulai menjadi perhatian pemerintah
dengan diluncurkannya kurikulum 2013 dan pada tahun 2017 dicanangkan PPK dengan
peraturan presiden Nomor 87 tahun 2017. Saat ini kemendikbud juga sedang gencar
mengkampanyekan bagaimana nilai-nilai pancasila harus ada dalam diri para
pelajar Indonesia dengan membumikan profil pelajar pancasila.
Namun,
tantangan yang dihadapi adalah bagaimana pendidikan karakter ini tidak sekedar
menempel di semua mata pelajaran sebagai pengetahuan secara kognisi namun
secara holistik dan terintegrasi dapat terasah dan terejawantahkan dalam
kehidupan keseharian. SMPIT LHI Banguntapan Bantul mengimplementasikan strategi
penguatan pendidikan karakter dengan menerapkan beberapa hal berikut:
Membangun filosofi pendidikan dan
branding sekolah
Seluruh
warga sekolah memahami bahwa filosofi pendidikan di SMPIT LHI sesuai dengan
logo sekolah yaitu pohon berbuah bintang. Ibarat sebuah pohon, siswa adalah
biji yang mempunyai potensi untuk tumbuh sesui keunikan masing-masing. Maka,
tugas warga sekolah adalah bagaimana menciptakan lingkungan yang baik untuk
mendukung tumbuhnya biji tersebut menjadi pohon yang sempurna dan berbuah lebat
yang bermanfaat untuk sekitar.
Menumbuhkan
Karakter Melalui Proses Pembelajaran
Tim guru mendesain pembelajaran dengan memasukkan indikator nilai-nilai karakter yang akan dibangun dan menjadi perhatian bersama baik guru maupun siswa. Siswa belajar secara kontektual dengan pembelajarn-pembelajaran berbasis proyek (PBL).
Pelibatan masyarakat sekitar dalam pendidikan karakter menjadi suatu keniscayaan dimana masyarakat sekitar akan memberikan pengalaman langsung bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan komunitas setempat, melatih empati, dan kemandirian. Kegiatan yang dilakukan diantaranya pengabdian masyarakat, magang profesi dan pengenalan budaya setempat (Lost in Kotagede)
Membangun
karakter melalui komunitas
Melalui komunitas, siswa akan
belajar banyak hal terutama bagaimana menjadi bagaian dari suatu kelompok
miniature masyarakat. Selain OSIS, SMPIT LHI memberikan fasilitas setiap komunitas
kelompok di sekolah mempunyai struktur organisasai seperti komunitas
ekstrakulikuler, Language Ambassador
dan forum komunitas lainnya.
Rutin
harian, pekanan dan bulanan untuk mendukung penguatan karakter.
Setiap pagi siswa mengikuti apel
pagi dan menyimak motivasi pagi dari para guru, sholat duha dan tilawah
kelompok. Sekolah juga membuat nilai-nilai bulanan untuk menjadi tema yang
diusung semua warga sekolah ( Values of
the Month).
Melibatkan
orang tua untuk mendukung program
penguatan karakter
Orang tua menjadi partner utama
dalam mendidik karakter siswa, maka perlu adanya kesepahaman dan komunikasi
yang baik antara sekolah dan rumah. Orang tua dilibatkan dalam penilaian sikap,
diskusi bulanan juga sekolah memfasilitasi kegiatan parenting online .
REFERENSI:
Larmer,
Jhon., John Margendoller.,dan Suzie Boss. Setting
the Standard for Project Based Learning:
A
Proven Approach to Rigorous Classroom Instruction. ASCD. Alexandria: 2015
Santosa, Hari. Fitrah Based Education. Cahaya Mutiara
Timur. Bekasi. 2016
Tim
PPK Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Modul
Penguatan Pendidikan Karakter Bagi Kepala Sekolah. Direktorat PTK
Pendidikan Dasar dan Menengah Dirjen GTK Kemendikbud. 2017




